Diduga, Pembangunan Pasar Modern Terhenti Karena Bergantinya Kepala Daerah yang Baru

Redaksi 30 Juni 2020 | 14:40 122
Diduga, Pembangunan Pasar Modern Terhenti Karena Bergantinya Kepala Daerah yang Baru

Bangunan Pasar Modern diduga terlantar dan jadi sarang hantu dikawasan Gampong Keudai Siblah Kec.Blangpidie./Dok Ali

ABDYA - Menelan anggaran sebesar Rp58,68 milyar dari dana Otonomi Khusus (Otsus) APBK 2016 dan 2017 proyek pasar modern yang terletak di Desa Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kini kondisi tiangnyan mulai lapuk dan di tumbuhi semak belukar. 30/06.

Proyek pembangunan pasar modern itu diduga terpaksa dihentikan ditengah jalan oleh pihak Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Abdya, karena dinilai terjadinya deviasi pekerjaan 46, 48 persen, sehingga proyek pasar modern Abdya itu menjadi terbengkalai dan tidak ada kejelasannya.

Diketahui, proyek itu dikerja kan oleh PT Proteknika Jasa Pratama dengan nomor kontrak: 602/01/KONTRAK-CK/PU/2016 tanggal 29 Februari 2016. Dalam proses pengerjaan berlangsung, mencuat dugaan korupsi pembangunan pasar terbesar di Abdya itu. 

Bahkan, kasus yang diduga merugikan negara hingga miliaran rupiah itu sempat ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh, namun kasus itu di­hentikan setelah keluar hasil pe­merik­saan tim ahli konstruksi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang menyatakan tidak ada pelang­garan hukum pada proyek tersebut.

Menanggapi persoalan itu, LSM Kompak Saharuddin, meminta kepada pihak pemkab Abdya melalui intasi terkait, agar pembangunan proyek pasar modern untuk dilanjutkan kembali.

Apalagi proyek tersebut masih ada sisa anggarannya sebesar Rp 46 miliar menjadi Silpa dan proyek tersebut juga telah menelan anggaran senilai Rp28 miliar lebih yang di biayai dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun 2015.pungkasnya

"Kalau pemkab abdya tidak melanjutkan kembali proyek tersebut,  kasihan juga kalau proyek yang sudah menghabiskan Anggaran Negara Puluhan Miliar tersebut dibiarkan menjadi bangunan tua." pungkas Saharuddin

Patut diketahui bahwa bangunan proyek pasar medern tersebut bukan punya pihak tertentu, namun bangunan tersebut adalah milik masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya.

Kepala daerah yang lama dan yang baru bisa saja berbeda visi dan misinya disaat memimpin, namun jangan lah pembangunan yang sedang berlansung dan masih dalam pekerjaan itu juga harus ikut terhenti karena bergantinya kepala daerah yang baru. tutupnya. (Ali)