Menuju Kehidupan The New Normal

Redaksi 30 Juni 2020 | 11:15 54
Menuju Kehidupan The New Normal

Ilustrasi

Penulis:

 Mukhsinuddin, S,Ag, MM

dan

Susi Herawati, SE,. ME

 

Saat ini Indonesia sedang transisi dalam tatanan new normal atau pelonggaran relaksasi , dengan istilah lainnya pelenturan. Kebijakan yang dilakukan pemerintah ini tentunya berharap dapat mengembalikan kehidupan masyarakat atau bisa jadi karena pemerintah melihat tanda-tanda resesi ekonomi Indonesia.

Meski pandemi ini  masih harus diwaspadai yang ada di sekitar masyarakat, di mana dengan tetap menjaga jarak, memakai masker dan sering mencuci tangan juga dengan berolah raga untuk menjaga stamina tubuh bagian dari menjaga kesehatan. Walaupun semua pihak ingin pandemi Covid-19 ini segera berakhir, namun belum ada sebuah negara yang berhasil dengan penerapan kebijakan tatanan new normal hingga saat ini.

Malah yang terjadi justru sebaliknya, di beberapa negara yang melonggarkan pembatasan sosial menghadapi gelombang kedua serangan virus Covid-19, sehingga kebijakan pelonggaran tersebut dicabut kembali. Padahal sesuai kriteria WHO beberapa negara seperti Korea Selatan, Cina, Jepang, termasuk negara yang dianggap telah berhasil melawan Covid-19.  Kita contohkan salah satu negara yaitu Swedia.

Dan Negara Swedia itu menjadi salah satu negara di Eropa yang tidak melakukan pembatasan sosial. Pemerintah setempat memilih membiarkan masyarakat menjaga dirinya dan berdamai dengan virus corona,19  dengan menerapkan herd immunity. Pemerintah Swedia berharap kebijakan bisa menjadikan sekitar 70 hingga 90% menjadi kebal terhadap penyakit menular, baik karena mereka telah terinfeksi dan pulih, atau melalui vaksinasi.

Namun yang terjadi, seperti yang dilansir Business Insider pada senin (25/5), sejauh ini hanya 7,3 persen orang Swedia yang punya anti body, hal itu terungkap dalam studi yang berasal dari pemeriksaan terhadap 1.100 warga Stockholm.

Swedia adalah negara dengan kasus corona tertinggi dibanding negara-negara Skandinavia lain, seperti Norwegia, Filandia, Denmark, dan Islandia. Berdasarkan peta Johns Hopkins University  total kasus virus corona di Swedia adalah 33.459 kasus, dengan kematian berjumlah 3.998.    Bila melihat total angka kematian akibat virus corona di Swedia lebih rendah ketimbang negara-negara Eropa yang menerapkan lockdown, seperti Inggris, Prancis, dan Italia.

Tapi angka kematian harian akibat virus corona per 1 juta orang di Swedia sudah lebih tinggi dari Italia, Inggris, bahkan melebihi Amerika Serikat, malah tertinggi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa teori Herd Immunity untuk mengatasi virus corona sangat berbahaya. Direktur Eksekutif  Program darurat kesehatan WHO Dr. Mike Ryan menegaskan, bahwa manusia bukanlah kawanan ternak yang bisa dibiarkan begitu saja. Jadi dengan melihat contoh yang sudah ada, artinya negara perlu memperhatikan timing yang benar-benar tepat agar tidak gegabah memutuskan kebijakan yang menyangkut dengan keselamatan nyawa manusia.

Sebenarnya jika saja dari awal pemerintah mau merujuk semua solusi dari berbagai problematika kehidupan umat, jadi dalam ajaran Islam, bahkan mulai dari tidur sampai bangun kembali, agama Islam, tentang nyawa seseorang, itu  benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi, menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”. (QS. Al-Maidah:32).

Lalu dalam Hadits Nabi Saw bersabda; “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan disisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim”. (HR. An-Nasa’i,). Begitulah perlindungan dan pemeliharaan hukum syariat Islam atas nyawa manusia diwujudkan melalui berbagai hukum. Di antaranya melalui pengharaman segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia. Nabi Saw bersabda; “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain”. (HR. Ibn Majah dan Ahmad).

Jadi dalam Islam, bahwa hubungan pemerintah sebagai penguasa dengan rakyatnya adalah hubungan pengurusan dan tanggung jawab. Artinya pemerintah bertanggungjawab penuh dalam memelihara urusan rakyatnya, terlebih menyangkut dengan keselamatan nyawa seseorang. Rasulullah Saw bersabda; “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi  dari itu bila perlu pemerintah tetap memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bukan malah melonggarkan tetapi seharusnya diperketat supaya transmisi wabah benar-benar berhenti. Walau kita tidak tahu sampai kapan ini berakhir, namun setidaknya dapat mengerem laju pandemi yang grafiknya masih signifikan.

Namun akankah negara ini siap melakukan hal itu? Dengan berbagai permasalahan  ekonomi yang saat ini bersamaan harus ditanggulangi untuk memenuhi kebutuhan mendasar dan kebutuhan primer rakyatnya?. Memang terkadang seperti buah simalakama dan  dilematis.

Di satu sisi para pengusaha mengeluh, dan juga masyarakat yang kehilangan mata pencaharian dan pengangguran dengan seluruh implikasi sosial dan politik pasti akan makin meningkat, tetapi jika dilonggarkan, kesehatan bahkan jiwa masyarakat juga akan terancam, layanan kesehatan juga akan mendapatkan beban yang makin berat (overload).

Tidak ada jalan lain kesehatan harus diutamakan dari segalanya.

Menarik jika kita mengutip pernyataan Presiden Zambia; “Saya bisa membangkitkan ekonomi yang mati, tapi saya tidak bisa membangkitkan manusia yang mati”.

Risiko memang berat, ekonomi akan semakin terombang ambing, tapi apa hendak dibuat, ketimbang wabah tidak kunjung reda. Menuju New normal itu adalah kepastian, bahwa cepat atau lambat dalam menghadapi pandemi Covid-19 memang dibutuhkan kenormalan baru.

Bila terburunya mengambil kebijakan new normal, mungkin pemerintah termotivasi karena melihat tanda-tanda resesi ekonomi, tetapi bahwa yang menjadi motivasi kebijakan seharusnya dalam rangka meniadakan dahulu persoalan. Ibaratnya, seperti kebakaran, memadamkan api itu bukan dengan menghalau asap.

Pandemi Covid-19 ini awal  persoalannya adalah  penyebab virus itu, jadi harus betul-betul menyelesaikan kasus hulunya, baru berfikir ekonomi. Saat ini kasus sudah merambat ke seluruh daerah di Indonesia, sementara sistem kapasitas kesehatannya masih berbeda-beda, jadi ini harus menjadi konsen pemerintah dan Pemda, kalaupun new normal tetap harus berjalan, simpelnya di berbagai bidang publik dengan infrastruktur harus sudah kondusif untuk berjalannya protokol kesehatan yang benar-benar memadai, harus ada peningkatan kapasitas pemeriksaannya, deteksi, pelayanan, perawatan, termasuk perlindungan terhadap tenaga kesehatan.

Lalu sebagai umat bagaimana harus menyikapi masalah ini?. Umat harus sadar bahwa beginilah keadaan bila kita hidup dalam sistem yang tidak patuh dalam  ketentuan hukum yang bisa dijadikan pedoman, kebijakan dijalankan berdasarkan kepentingan pihak yang berkuasa atau yang berpengaruh pada yang sedang berkuasa, akhirnya banyak hal yang prinsipil seperti soal kesehatan dan keamanan jiwa manusia terabaikan, kalah dengan kepentingan bisnis pemilik modal.

Oleh karena itu umat harus berjuang bahu membahu menyatukan pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama dengan terus mengingatkan dan mendo’akan pemerintah untuk tetap melaksankan aturan demi perlindungan nyawa manusia semua.

Semoga  solusi dalam mengatasi berbagai persoalan negara dan bangsa, termasuk wabah Covid-19 akan bisa diatasi dengan tuntas, sehingga negara dan bangsa ini akan mendapat berkah dari langit dan bumi, sebagaimana Firman Allah. “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dan dari itu kita selalu memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah wabah ini cepat berlalu di dunia ini dan khusunya di Nusantara yang kita cintai ini... Amin,..

Penulis adalah, Dosen STAIN MEULABOH ACEH BARAT.