Kuliah Daring, Mahasiswa Kurang Minat Kreatifitas

Redaksi 30 Juli 2020 | 15:15 104
Kuliah Daring, Mahasiswa Kurang Minat Kreatifitas

Zakiah Mahasiswa UIN Ar-Raniry Asal Mutiara

Oleh Zakiah

Mahasiswa UIN Ar-Raniry
Asal Mutiara

Semua orang dalam sekejap menderita shock therapy atas pandemic ini, hal yang paling berdampak terjadi pada dunia pendidikan. Pasalnya, ada banyak kerumumunan dan ketidak patuhan protokol kesehatan di daerah pusat pembelanjaan, warung kopi, café, atau tempat umum lainnya, sedangkan sekolah, dan kampus sendiri ditiadakan pembelajaran tatap muka.

Dalam menanggapi hali ini, banyak guru, dosen atau siswa dan mahasiswa mau tidak mau harus memanfaatkan teknologi atau pembelajaran daring (online learning / online classroom). Aplikasi pendukung belajar telah memenuhi memori telepon pintar siswa, orang tua siswa, guru, dosen, mahasiswa, bahkan seluruhnya di atur dalam pembelajaran daring.

Tentu semua perlu adaptasi dan pengaturan ulang, hal yang perlu dilakukan agar tujuan pendidikan juga terjalankan walaupun dalam pandemi dan keresahan akibat signal yang tiba-tiba hilang.

Perguruan tinggi di Aceh khususnya UIN Ar-Raniry terlihat kewalahan dalam menanggapi petisi-petisi dari mahasiswanya.Petisi di buat atas dasar pengumpulan data kekurangan dalam pembelajaran daring semester ini.

Mahasiswa banyak memprotes atas ketidak jelasan jadwal masuk dosen ataupun pengertian dosen atas perbedaan jaringan seluler mahasiswanya yang berada di hampir seluruh kota dan pelosok tanah rencong ini.

Belajar di perguruan tinggi merupakan upaya dalam mencari jati diri.Tidak sedikit kita lihat, seseorang yang tidak tau minat dan bakat di sekolah menengah atas lalu saat diperguruan tinggi ia menemukan bakat dan minatnya.

Tentu ini di sebabkan karena perbedaan lingkungan, yang membuat mahasiswa terus mencoba sesuatu yang baru, baik dari fasilitas kampus atau kegiatan di luar kampus, sehingga membuat mahasiswa berpikir terbuka dan kreatif dalam menanggapi sesuatu hal.

Sikap kreatif sangat akrab dikalangan mahasiswa, mahasiswa dituntut kreatif dalam pembelajaran, diluar pembelajaran (misal :mengikuti event) sehingga membuat seluruh pemikirannya di penuhi oleh pertanyaan “hal baru apa yang harus dibuat lagi ?”.

Menanggapi semester daring kali ini, tidak banyak dari mahasiswa mengikuti dan berminat untuk mengerjakan sesuatu diluar dari tugas kampus yang diberikan.

Ini disebabkan karena lingkungan keluarga dengan lingkungan pertemanan itu sangat jauh berbeda, sehingga mereka yang sudah pulang ke kampung halaman, yang jauh dari lingkungan teman mainnya akan merasa ide yang biasanya bisa direalisasikan kemudian sekarang akan dihalangi oleh jarak.

Dulu sering kali kita melihat mahasiswa berkumpul disuatu tempat untuk berdiskusi membahas kegiatan yang akan dilakukannya, namun sekarang tempat tersebut sepi dan hanya menyisakan iide dan cerita awal yang tak kunjung terjadi lagi.

Jadi tidak heran jika kita melihat semakin banyak mahasiswa yang lari dari kesibukan biasanya di kampus kedunia game yang penuh tantangan.

Di lain situasi, ada juga mahasiswa yang biasanya suka berbicara di depan umum (misal:demo) untuk menyampaikan aspirasinya, kini beralih pada platform platform terkenal di Indonesia, seperti Instagram, Twitter dan aplikasi lainnya, dan tidak sedikit pula mahaiswa memutar kepalanya agar hidupnya tetap productive dan creative melalui situs atau blog blog yang kembali lagi di fungsikan.

Namun dalam proses nya juga tidak sedikit hal itu hanya dilakukan dalam beberapa pekan saja, disebabkan karena jaringan seluler yang memperhambat proses penyebaran,

Keadaan ekonomi keluarga, ataupun kemalasan untuk berbuat sesuatu lagi selain tugas kampus yang begitu banyak diberikan untuk menutupi pertemuan pembelajaran tatap muka. Sehingga membuat mahasiswa kurang berminat dalam kreativitas di masa pembelajaran daring ini. Nah !