Mengapa Merusak Alam atau Manusia adalah Tuhan ?

Redaksi 23 Mei 2020 | 08:37 43
Mengapa Merusak Alam atau Manusia adalah Tuhan ?

Linda Maulana

Oleh Linda Maulana
Mahasiswi UIN Ar- Raniry
Prodi Aqidah Filsafat Islam

Tanggal 22 Mei 2020 sekitar pukul 16 sore saya melintasi jalan Banda Aceh- Medan, sekitar jalan Seulawah tepatnya setelah melewati jembatan Seunampet saya melihat beberapa monyet dipinggir jalan pada bagian arus balik, dua diantara mereka menggendong bayi mereka pada bagian depan tubuhnya.

Lalu mungkin beberapa dari kalian bertanya lalu memangnya kenapa? Dari dulu mereka memang sudah ada disitu. Iya benar sekali, dan saya baru menyadari ini.

Beberapa tahun saya melewati jalan ini dan setiap tahunnya pasti ada yang berubah baik dari jalannya yang rusak; sedang diperbaiki; atau sudah diperbaiki, pembangunan semakin bertambah, dan pembukaan lahan semakin tampak saja.

Sebelumnya saya tidak menyadari ini, tapi saat ini saya melihat banyak lahan yang dibuka untuk berladang, penebangan pohon, pengerukan bukit-bukit, dan bangunan baru. Akibat dari hal- hal inilah monyet- monyet tersebut kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan mereka bahkan motor saya nyaris menabrak dua ekor monyet yang melintas secara tiba- tiba setelah memasuki daerah kabupaten Pidie.

Sorot mata mereka menggambarkan kepedihan, dimana hidup mereka diadili oleh siapa saja yang mengambil rumah mereka. Orang-orang yang merusak hutan atas kesadaran penuh ini telah menjadi tuhan bagi makhluk- makhluk lainnya yang bergantung pada hutan tersebut.

Kawasan hutan yang sebelumnya saya lihat terdapat informasi bahwa area tersebuat milik pemerintah tapi sekarang sudah ditebang, hanya beberapa area yang memiliki plang dengan tulisan yang berbeda yang tidak tersentuh tampak dari luarnya.

Manusia- manusia yang merusak alam ini benar- benar egois dan berhati batu. Mereka tidak peduli terhadap makhluk tuhan lainnya lalu bila ada hewan liar yang masuk ke rumah mereka atau pemukiman mereka untuk meminta ' keadilan' maka apa lacur mereka yang berbalik arah menodongkan senjata kepada ' korban' dengan status ' tersangka' atas kerugian dirinya.

Manusia memang diciptakan sebagai pemimpin dimuka bumi ini dengan kekuasaanya yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan tentu saja dengan predikat pemimpin yang adil dan bijaksana, tapi dengan ilmu yang dimilikinya malah menjadi pemimpin yang buruk.

Kerisauan mengenai manusia yang menciptakan kekacauan diatas muka bumi yang tersebut dalam al- quran seharusnya menjadi pengingat dan pembelajaran bagi kita tapi apalah daya kekacauan malah meraja diatas muka bumi. 

Kerusakan yang terjadi dialam pasti akan menimbulkan dampaknya karena alam telah menulis hukum nya. Manusia yang melakukan atau yang tidak melakukan kerusakan akan menikmati itu semua. Alam bukanlah Tuhan yang bisa memberikan kesempatan kedua bagi umatnya.

Di kala alam telah muak dan menunjukkan eksistensinya maka Tuhan merestui nya untuk mengadili kita. Jika kita telah diadili maka kesombongan yang mana yang akan kita perlihatkan? Atau kita akan saling menuduh? Atau pura- pura menjadi korban? Bahkan dibawah kekuasaan ciptaan makhluk Tuhan lainnya kita menjadi lemah. Bisa kalian pahami bahwa siapa yang berkuasa diantara manusia dan alam?.

Bisakah mereka melihat hutan itu bagian dari hidup nya? hidupnya yang berharga secara value bukan secara material tentunya.  Dan saya mengutuk bagi siapa saja yang melakukan kerusakan ini. Tidak peduli dia si miskin atau si kaya, atau apapun pangkatnya di kehidupan sosialnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang berladang?

Bukankah mereka mencari makan? Ya, tentu saja. Secara egois saya menyalahkan mereka semua. Saya menyalahkan siapa saja yang merusak hutan. Tapi, pembukaan lahan untuk masyarakat kecil seperti mereka tidaklah mengambil lahan yang sangat luas.

Mereka hanya memakai lahan sebatas kemampuan mereka dalam mengolah lahannya, lagi pun mereka juga menanam tumbuhan lainnya diatas lahan yang sudah dibuka? Saya akan tetap menyalahkan mereka karena telah merebut milik hewan lainnya. Tanaman yang ada pada lahan tersebut juga tidak bisa dinikmati oleh hewan lainnya. Maka itu tetap merusak alam. Jika pun dia peduli terhadap tanaman nya dia bukanlah peduli terhadap alam tapi peduli terhadap perut anak dan istrinya. 

Sebenarnya saya benci ketidak berdayaan mereka sehingga harus merusak alam, saya benci mereka yang tidak bertanggung jawab atas perut yang lain, dan saya benci ketidak berdayaan diri saya sendiri. tulisan ini adalah bentuk ketidak berdayaan saya.

Saya marah dan sedih tidak bisa melakukan ' kerja nyata' atas kerusakan ini. Hidup seorang pengemis bahkan lebih beruntung dari hewan- hewan tersebut. Nah!